kau sayangku

Just another Student Blogs weblog

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Batas Kabupaten Sikka

Kab.SIKKA

Kabupaten Sikka dengan ibu kota Maumere terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Memiliki luas 1.731,9 km2. Kabupaten Sikka memiliki banyak catatan sejarah dan pra sejarah yang memantik banyak pihak untuk mempelajarinya. Dibawah ini sedikit tentang Kabupaten Sikka dan Kepurbakalaannya.
**
Wilayah Kabupaten Sikka dalam peta sepintas seperti sebuah gagang keris. Foto/gambar simbolik seperti itu langsung membayangkan sesuatu yang keras. Pelukisan ini tentulah sangat merangsang perbedaan pendapat. Namun hal yang tak bisa dibantah ialah sejak dahulu kala Sikka memang penuh dengan pergolakan yang keras, dinamika Sikka yang sangat khas dalam membangun kesatuan dan persatuan.
Dalam berbagai diskusi khusus, sorot krusial, Sikka (Kabupaten Sikka)memiliki kekhasan dalam hal muatan potensi kepurbakalaannya, pergolakan politiknya, bernas kesejarahannya, pernik-pernik seni-budayanya dan dalam hal potensi alam fauna dan flora serta peta kebahariaannya.
Siapa saja yang memahami sejarah Sikka kiranya mengamini, betapa pentas kepurbakalaan sangat rnenggelitik dalam hal tokoh-tokoh atau figur¬figur purba leluhur Sikka. Betapa dunia kepurbakalaan itu yang setidaknya masih berpantulan hingga Abad XX dan XXI. Figur-figur purba Mo’ang RaE Raja dengan pasangannya Du’a Rubang Sina, dan Mo’ang Sugi Sao dengan Du’a Sikka Go’it (Sikka Du’a Go’it) sungguh menggelitik dalam menelusuri cikal-bakal Sikka.
Atau khususnya keturunan seperti Bata Mo’angJatti Jawa, Mo’ang La’i Igor, dan Mo’ang Bagha Ngang yang dicatat sejarahwan sebagai peletak dasar Kerajaan Sikka).

Begitu juga Mbengu-Paga yang memantulkan khasanah birokrasi Paga-Mbengu sampai saat ini). Figur purba yang sangat menggelitik adalah ata bekor yang adalah dara purba dari Hulu Go’it dan Nalu Pare yang menurunkan Suku Woloblo di Klo’angpopot).

Secara khusus “Blikon Blewut” memuseumkan berbagai fosil artefak tidak hanya dari Sikka tetapi juga dari berbagai daerah di NTT, di Indonesia bahkan di dunia. Selain itu, masih banyak artefak yang tidak ditampung Blikon Blewut seperti “Jong Dobo” di Desa Dobo. Perkara barang-barang purba juga disimpan di Regalia Nita di Nita.

Literatur : ‘Pelangi Sikka’

Oscar Mandalagi Parera

www.inimaumere.com

MENJELAJAH MASA SILAM LEWAT MUSEUM BLIKON BLEWUT

MUSEUM BLIKON BLEWUT

Ketika memasuki gedung museum Blikon Blewut yang terletak dalam area Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik Ledalero saat itu juga perasaan kita seakan terbawa menuju masa silam dimana jaman prasejarah dan sejarah umat manusia dan kehidupan di bumi ini di lukiskan dalam berbagai artefak dan peninggalan kuno dari peradaban manusia. Kata Blikon Blewut itu sendiri maksudnya adalah sisa-sisa dari yang punah. Artinya lebih dari purba.

Museum Blikon Blewut terletak dalam komplek area Sekolah Tinggi Filsafat Khatolik (STFK) Ledalero. Dari Kota Maumere berjarak 6 Km menuju selatan Kabupaten Sikka atau berada dalam lintasan jalan raya menuju ke Kabupaten Ende. Secara Administrasi, Museum Blikon Blewut terletak dalam Wilayah Pemerintahan Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Ketenangan suasana yang dibaluti hawa dingin menjadikan kita tak bosan-bosan berkelana ke masa lampau dengan melihat-melihat segala macam peninggalannya yang menarik untuk dipelajari,menjadikan ilmu untuk yang ingin mempelajarinya. Dalam buku tamu museum, terlihat jelas indentitas para kalangan yang telah mampir di museum ini baik dari kalangan peneliti, ilmuwan, mahasiswa dan wisatawan yang datang dari berbagai negara di dunia dan tentu saja sejumlah daerah di Indonesia.

Sudah siap berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam lewat Museum Blikon Blewut? Berangkat….!!

Membicarakan Sikka purba -juga Flores, NTT, Indonesia dan dunia tak bisa dipisahkan begitu saja dengan “Museum Blikon Blewut”. Inilah museum terbesar dan terlengkap di Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) yang menghimpun berbagai fosil dan artefak dari zaman batu,megalitikum, dan artefak kesenian lainnya dari berbagai kultur.

Penataan dan pengelolaan museum ini dari hari ke hari semakin memenuhi tuntutan dan bobot ilmiah, kadar kultural dan nilai estetika. Inventarisasi kategoris koleksi museum ini memiliki macam-macam benda, alat, photo dokumentasi, patung, kain tenun, parang, emas, perunggu, batu mulia, batu-batuan lain, berbagai jenis mata uang logam dan kertas dari mancanegara dan lain sebagainya. Inilah peninggalan budaya di Flores dan berbagai daerah lain di Nusantara dan dunia yang memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga perlu di amankan dan terus di gali nilai tersebut.

Pengumpulan benda-benda purba dimulai oleh Pater Verhoeven SVD pada tahun 1965, kemudian dilanjutkan Pater Piet Petu SVD pada tahun 1980-an, “Saya senang rnenyimpan barang-barang seperti itu.Bakat itu dari rumah dimana saya selalu mempunyai barang-barang koleksi yang baik.”

Blikon Blewut memuat benda-benda yang paling purba seperti tulang-belulang Protonegrito, binatang buruan seperti stegedon dan batu-batuan yang jadi perkakas karya manusia purba. Stegedon sekitar 200- 300 tahun SM, di mana di jaman itu manusia dari awalnya memakan binatang, binatang makan manusia. Pater Verhoeven dari awalnya hanya mengumpulkan benda-benda purba itu antara lain sebuah kapal dolok perunggu terkenal yang diambil dari So’a-Bajawa dan fosil-fosil Stegedon tlorinensis Hooijer, dari kaki Gunung Ebulobo – Olabula – Boawae. Sedangkan Pater Piet Petu SVD sebagai penerus mulai dengan verifikasi yaitu mencari hubungan kausalnya.

Promotor Blikon Blewut terbesar adalah Dr. P. Th. Verhoeven SVD yang mulai mengadakan penelitian dan ekspedisi-ekspedisi penggalian sejak tahun 1950. Tokoh-tokoh lain yang ikut menggali barang-barang prasejarah dan sejarah ialah Mgr. van Bekkum SVD, Pater Mommersteeg SVD, van Heekeren (Kepala Dinas Purbakala Jakarta di saat itu), Pater Darius Nggawa SVD, Fr. Nurak dan sebagainya. Sedangkan khusus di Timor, sebelum Pater Verhoeven dkk. sudah pernah diteliti oleh Fritz Serasin pada tahun 1934 dan YA. Willems pada tahun 1938.

Dari hasil penelitian dan penggalian di Flores, Sumba, dan Timor Pater Verhoeven mengadakan hubungan dengan para ahli di Eropa. Mereka mempelajarinya dan menganalisia benda-benda penemuan yang diserahkan Peter Verhoeven. Kemudian mempublikasinya dalam beberapa majalah ilmu pengetahuan seperti Antropos (Internasional) dan juga beberapa kali termuat dalam Majalah Berita MIPI.

Penyelidikan prasejarah ini sejak awal diketahui dan disahkan oleh pemerintah, dan Peter Verhoeven SVD tetap memberikan laporan-laporannya kepada Kepala Dinas Purbakala di Jakarta dan kepada Seksi Pengajaran dan Kebudayaan Propinsi. Juga ada hubungan kerja sama dengan beberapa ahli di Bogor dan Bandung. Sampai sekarang kegiatan itu masih merupakan usaha partikuler. Sedangkan para ahli di Eropa yang memiliki perhatian terhadap obyek-obyek itu adalah seperti Prof. Dr. Huizinga dan Prof. Dr. von Kooningswald di Univeraitas Utrech, Belanda, dan Dr. 0.A. Hooijer.

Di belakang Pater Verhoevera, Pater Piet Petu SVD melanjutkan karya besar itu dengan mengumpulkan barang-barang purbakala lainnya dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor. Pater Piet Petu SVD pulalah yang selanjutnya memverifikasinya yaitu mencari hubungan kausa1nya.

Adapun isi Museum Blikon Blewut secara garis besar dapat dipaparkan:

I . Alat-alat Kebudayaan Pra-Sejarah

1. Zaman Batu Flores: Zaman Paleoliticum atas; ZamanPakoliticum tengah; Zaman Paleoliticum bawah.
Barang-barang berupa chop¬per, chopper tool, hand adze.Semuanya berjumlah 70 buah; Zaman Mesoliticum, berupa ujung panah berkait, kapak, ujung tombak boor besar, yang semuanya berumlah 15 buah. Berikut alat-alat dan kulit siput berupa pijpunten, blades, dan perhiasan yang berjumlah 20 buah, Selajn itu juga tembikar dari Liang Toge.

2. Zaman Perunggu, berupa dolok perunggu (satu-satunya yang terdapat di Indonesia), gong, moko, gelang, pattung anjing, tempat sirih, dan manik-manik berjumlah 10 buah.

3. Fosil-fosil atau alat-alat dari Kebudayaan Sangiran dan Pacitan berjumlah 128 buah.

4. Zaman Batu Eropa berjumlah 80 buah (Abbevillen-Auriguneian
Clactonien-SoIutrean-AehenIeen-Magdalenien-Monsterien-Mi-,
crolith). Jugs alat-alat Neolithis dan perhiasan dari Afrika berjumlah 24 buah.

5. Batu-batu mulia, yang besar berjumlah 71 buah dengan perincian bahwa ada beberapa berasal dari batang kayu yang membatu. Permata berjumlah 45 buah yang diambil dari Lehrmittel-Anstalt Janger Eisenblute-Erzberg; Erzbergit-Erzberg; Edelopal-Mexico; Turmalin dan Achat Gefarbt (Brasilien)

6. Manik-manik.
Ada yang berbentuk bulat dan ada yang bulat
panjang. Diperkirakan berasal dari Roma, Mesir, dan India.

II. Benda-benda Porselen.
Benda-benda porselen berupa piring-piring, patung ayam dan sebagainya berjumlah 80 buah. Dikirakan berasal dari Zaman Ming dan Zaman Jung (dari kubur Berloka-Werloka).

III. Alat-alat Musik.
Alat-alat musik dari Flores dan Timor berupa macam-macam staling, robo, bo gena, for dogo, hake, hoi, woi mere (semacam gitar dari Timor), fekodan sebagainya berjumlah 90 buah.

IV. Tenunan, anyaman, dan ukiran.
Tenunan berupa sarung-sarung dari Flores dan Timor. Anyaman berupa tempat sirih, tempat tembakau, keranjang dan tempat kapur sirih. Ukiran berupa empat papan berukir dari Ngada, ukiran patung dari Irian Barat. Semuanya 90 buah.

V. Fauna.
Fauna praehistoris berupa Stegedon florensis dengan banyak geligi dan tulang-belulangnya. Spelaemys floorensis Hooijer, Papagomys arrnanvillei, geligi hayfish, geligi ikan yu (hiu), geligi Boa lezafarit, Papagomys verhoevani Hooijer. Sedangkan fauna belakangan adalah kura-kura, macam-macam siput, dan kupu-kupu. Selain itu terdapat juga dua buah kumbang dari Sikka, dua kumbang sedang, 2 kumbang kecil, pakaian dan gendang Irian Barat.

Menurut Pater Piet Petu SVD, barang-barang yang dikumpulkan itu,selain dicari sendiri, tetapi ada juga yang dibawah sendiri oleh orang-orang untuk menjualnya. Pater Piet Petu membeli dengan kemampuan yang ada. Kalau terlalu mahal tak dibelinya. Semuanya diproyeksikan sebagai medium ilmu pengetahuan.

Selembar Uang Kuno dan Lukisan Jenderal Anumerta Ahmad Yani

Menarik sekali ketika melihat selembar uang kertas kuno yang tertata rapi bersama uang kertas kuno lainnya dan berada dalam sebuah bingkai kaca yang melekat di dinding museum. Uang kertas yang menarik perhatian tersebut adalah uang kertas yang memiliki nilai seharga Rp.2,5. Ada rasa bangga juga bahwa museum ini masih menyimpan uang kertas kuno tersebut yang memuat model asli dari Kabupaten Sikka sendiri. Wajah yang berada dalam uang kertas itu adalah wajah Bapa Tua bernama Moat Noeng asal Kampung Wolohuler yang berdekatan di Desa Nele. Mengapa Bapa Noeng bisa menjadi model uang kertas yang berlaku dari tahun 1952-1956 tersebut? Ceritanya,saat berjualan kelapa muda di pinggiran jalan raya menuju Bandara Wai Oti (2 Km dari pusat Kota Maumere) sosok petani miskin ini rupanya menarik perhatian Sang Proklamator Indonesia, Moat Soekarno (Bung Karno). Bung Karno saat itu bersama rombongan transit di Maumere. Bung Karno lalu menyuruh memberhentikan mobil dan menanyakan harga beberapa butir kelapa muda yang di jual Moat Noeng tersebut yang dijawab dengan harga Rp.2,5. Yang menarik dari tegur sapa antara Sang Presiden dan rakyatnya antara lain Bung Karno merasa terkesima dengan sosok orang kampung yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Melihat sosok miskin yang bersahaja tersebut, Bung Karno memerintahkan untuk segera memotret Moat Noeng. Gambar dalam uang kertas itu adalah hasil dari foto yang diambil di pinggir jalan raya menuju Bandara Wai Oti. Cerita diatas disampaikan oleh penjaga museum Blikon Blewut kepada www.inimaumere.com ketika kami menapaki sejarah masa silam saat mengunjungi Museum Blikon Blewut.
Senyum khas lelaki kampung bersahaja seperti juga senyum –senyum khas tanpa basa-basi atau apapun memang merupakan cermin senyum dari hati yang tulus dan ini bisa kita nikmati hampir di seluruh kampung-kampung di Kabupaten Sikka dan Flores pada umumnya.

Di dinding museum juga terdapat lukisan Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani yang memiliki cerita sendiri. Lukisan tersebut dibuat oleh Fr.Bosco Beding tanggal 30 September 1965. Di bawah lukisan itu sebelumnya tertulis Jenderal Ahmad Yani namun setelah terjadi peristiwa G30S/PKI ditambahkan Jenderal Anumerta Ahmad Yani.L ukisan itu dibuat tanggal 30 September 2009 di Ledalero dimana beberapa hari sebelumnya Ahmad Yani mengunjungi Ledalero untuk memberikan ceramah di depan kalangan akademisi dan rohaniawan.

Masuk Blikon Blewut rasanya seperti berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam itu sendiri. Inilah warisan peninggalam masa lampau yang patut diketahui dan di jaga oleh kita bersama. Sudah pernah kesana apa belom? Kalau belom, saatnya mencoba untuk berkelana ke jaman tempo doeloe dengan mengunjungi Museum Blikon Blewut.

ASAL MULA BERDIRINYA KOTA ENDE

RLIN BATO-DOWNLOAD VIDEO & KOLEKSI LAGU-LAGU MP3

Kamis, 25 Februari 2010

ASAL MULA BERDIRINYA KOTA ENDE

PENDAHULUAN
Cerita asal mula berdirinya Nua Ende meningkat menjadi Kota Ende, samar-samar saja. Dongeng-dongeng yang mengarah kesana tidak sama benar. Fragmen sejarah tidak memberi kejelasan. Karena itu tidak mudah memberikan jawaban atas pertanyaan : Oleh siapa dan kapan Nua Ende di mulaikan. Mythos yang samar-samar perlu diteliti bersampingan dengan fragmen sejarah, agar dua sumber ini Bantu- membantu dalam usaha mencarikan jawaban yang baik.

I. Segi Mythos

Mythos didirikan Nua Ende adalah unsur pra sejarah yang dapat dijadikan sumber penelitian. Dongeng-dongeng yang diteliti ini adalah kutipan dari karangan S.Roos “ Iets Over Ende “ dan karangan Van Suchtelen tentang onderafdeling Ende. S.Roos membicarakan antara lain masalah berdirinya Nua Ende dan Tanah Ende B.B.C.M.M. Van Suchtelen Kontroleur onderafdeling Ende mengemukan mythos Dori Woi, Kuraro, Jari Jawa. Perbedaan antara S.Roos dan van Suchtelen ialah mythos Kontroleur S.Roos (Sumbi) dibawakan dengan umum saja, sedangkan mythos Van Suchtelen diceritakan dengan diperinci.

S.ROOS Tentang Nua Ende ,Tana Ende

Walaupun tidak diperinci namun ceritera yang dikemukan Roos amat berharga. Diceriterakan kepadanya tahun 1872 bahwa kira-kira sepuluh turunan lalu sudah turun dua orang dari langit, Ambu Roru lelaki dan Ambu Mo` do wanita. Mereka kawin dan mendapat lima anak, tiga wanita dua lelaki. Satu wanita menghilang tanpa kembali lagi. Empat anak yang lain melanjutkan turunan Ambu Roru dan Ambu Mo`do. Pada suatu hari, Borokanda, Rako Madange, Keto Kuwa bersampan dari Pulau Ende ke Pulau Besar karena mereka memasang bubuk disana, untuk menangkap ikan.Mereka mendapat banyak ikan yang separohnya mereka makan ditempat dan yang sisa mereka bawa ke rumah. Sementara makan itu datang tuan tanah Ambu Nggo`be yang diajak turut makan.Pertemuan mereka membawakan persahabatan. Ambu Nggo`be mengajak orang-orang itu meninggalkan Pulau Ende supaya berdiam dipulau besar. Anak isteri dan harta milik dapat diboyong kemudian.Ambu Nggo`be berikan tanah dengan syarat mereka harus bayar, satu gading dan se utas rantai mas. Bahan warisan itu masih disimpan Kai Kembe seorang turunan lurus Ambu Nggo`be. Jadi semua syarat dipenuhi dan diselesaikan.Mereka menebang pohon dan semak memulaikan perkembangan yaitu Nua Roja yang kemudian diganti dengan nama Nua Ende. Terjadi kawin mawin antara penduduk asal pulau Ende dan penduduk asli. Maka putera Ambu Roru kawin dengan putera Ambu Nggo`be.Beberapa waktu kemudian datang seorang lelaki dari Modjopahit dengan mengendarai ngambu atau ikan paus. Ia berdiam di Ende dan kawin dengan wanita anak putera ambu Roru dan Ambu Nggo`be. Pun seorang Cina berdiam di Ende dan kawin dengan dari keluarga sama ini. Orang Cina itu bernama Maga Rinu ( Sic Bapak Kapitan Nggo`be ). Dari ceritera ini dapat disimpulkan bahwa Nua Ende dimulaikan oleh Ambu Nggo`be dan bantuan Ambu Roru dari Pulau Ende dan bantuan orang Majapahit serta orang Cina. Pengambil inisiatip dan penanggung jawabannya ialah Ambu Nggo`be sebagai tuan tanah besar.
B.B.C.M. Van suchtelen tentang Ende dan tana Ende.
Tiga dongeng berikut ini lebih terperinci yakni dongeng Dori Woi, Kuraro dan Jari Jawa.
A. Mythos Dori Woi
Atas kebaikan Dori Woi, Sanga Kula menjadi penduduk pertama Pulau Ende. Karena tidak mempunyai anak ia jadikan Raja Redo anak angkat. Redopun tidak mempunyai anak sehingga Ambu Roru dijadikan anak angkatnya. Ambu Roru kawin dengan Puteri Nuru Laila ( Nur Laila) asal daun lontar dan mendapat dua anak wanita, Ambu Mo’do dan Peteri Samasa. Puteri Samasa berangkat ke langit dan menghilang. Tetapi ia turun lagi ke Luwu, lalu kawin dengan seorang putera Luwu. Mereka ini menurunkan raja-raja Luwu di Sulawesi. Ambu Modo kawin ambu nggo’be dari Onewitu. Seorang puera mereka Mosa Pid kawin dengan wanita Sumba kemudian dengan wanita Nggela. Dari perkawinan ini dilahirkan dua puteri Soru dan Toni. Soru kawin dengan Lesu Bata dari Sikka( teks asli Lika) dan menurunkan raja-raja Sikka. Toni kawin dengan Ambu Jua dari Ambutonda, menurunkan raja-raja Ende. Jelas dari dongeng Dori Woi bahwa ia penurun turunan raja-raja tetapi melalui Ambu Nggo’be. Ambu Nggo’be kawin juga dengan wanita dari Sikka bernama Sodong ( sic Bapak Kapitan Nggo’be). Dari cerita ini dapat dilihat bahwa berbagai orang turut membangun Nua Ende. Tetapi pengambil inisiatip dan penanggung jawabnya adalah tuan tanah yaitu Ambu Nggo’be.

B. Kuraro dan Nua Ende, Tana Ende

Seorang puteri Tonggo hamil dari kerbau putih. Ketika ayahnya mau membunuh kerbau ia halang-halangi karena kerbau putih itu suaminya. Ayah marah dan menolak dia dari gunung ke lembah. Dari peristiwa ini perempuan itu disebut Ambu Kora. Ia lahirkan puteranya Raro. Mereka berpindah ke Pulau Ende lalu tinggal dengan Sugi Mbo, Mosa Pio. Dalam perang dengan Numba mereka bantu Barai lawan Numba. Ketika Numba dan Barai bersatu lagi mereka terpaksa meminta tanah tempat kediaman kepada Embe Nggo’be dari Detu Kou. Tanah yang diberikan dibagi oleh Mosa Pio ialah Kora dan Raro mendapat Kuraro serta Sugi Mbo dan Mosa Pio mendapat yang sisa dimana mereka mendirikan Nua Ende. Pun cerita ini menjelaskan bahwa berbagai orang turut dalam meletakkan dasar bagi Nua Ende tetapi penanggung jawab resmi dan terutama ialah tuan rumah Ambu Nggo’be yang realisasinya memanfaatkan berbagai tenaga sahabat.

Kesimpulan mythos S. Roos dan Van Suchtelen

Dari cerita donggeng-donggeng ternyata peranan Ambu Nggo’be menentukan, karena mempunyai kedudukan sebagai tuan tanah besar. Jadi usaha membangunkan Nua Ende ada suatu usaha menurut rencana Ambu Nggo’be. Dasar Nua Ende ini dalam perkembangannya sejarah meningkat menjadi Kota Ende. Dalam kegiatan membangun Kota Ende, Ambu Nggo’be memanfaatkan berbagai tenaga antara lain Ambu Roru, Sugi Mbo, Mosa Pio, Jari Jawa, Maga Rinu. Dua tenaga akhir adalah tenaga Jawa Majapahit dan tenaga Cina karang kapal. Jadi jawaban mythos terhadap pertanyaan siapa yang mendirikan kota Ende ialah Ambu Ngoo’be, cs Nua Ende di zaman Ambu Nggo’be adalah kota Ende in making.

Gunung Kelimutu

Gunung Kelimutu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Terkini (belum ditinjau)

Langsung ke: navigasi, cari

Gunung Kelimutu
Ketinggian 1.639 meter (5.377 kaki)
Garis Lintang 8° 77′ LS
Garis Bujur 121° 82′ BT
Lokasi Pulau Flores, Indonesia
Jenis gunung kompleks
Letusan terakhir 1886
Listing Spesial Ribu

Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi NTT, Indonesia. Lokasi gunung ini tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna – warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

[sunting] Sejarah

Kelimutu (1913)

Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu.

Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Kuda Sandelwood

Kuda Sandel

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

Kuda poni Sumba telah lama (foto tahun 1920-an) menjadi alat transportasi.

Kuda Sandel, atau lebih lengkap kuda Sandalwood pony, adalah kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkkan di Pulau Sumba. Konon kuda ini memiliki moyang kuda arab yang disilangkan dengan kuda poni lokal (grading up) untuk memperbaiki sejumlah penampilannya. Nama “sandalwood” sendiri dikaitkan dengan cendana (“sandalwood”) yang pada masa lampau merupakan komoditas ekspor dari Pulau Sumba dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Menurut catatan J. de Roo pada tahun 1890, kuda telah menjadi komoditi perdagangan orang Sumba ke daerah lain di Nusantara paling tidak sejak 1840 melalui Waingapu yang kebanyakan dilakukan oleh bangsawan setempat.[1]. Populasinya sempat menurun menjelang pertengahan abad ke-20 akibat meluasnya penyakit dan juga persaingan dari ternak sapi ongole Sumba. Pada masa kini, perbaikan mutu dan penampilan kuda sandel telah menjadi program nasional, dilakukan melalui program pemuliaan murni dan grading up dengan persilangan terhadap kuda “thoroughbred” asal Australia untuk kecepatan dan tenaga.[2]

Kuda sandel memiliki postur rendah bila dibandingkan kuda-kuda ras dari Australia atau Amerika. Tinggi punggung kuda antara 130 – 142 Cm. Banyak dipakai orang untuk kuda tarik, kuda tunggang dan bahkan kuda pacu. Keistimewaannya terletak pada kaki dan kukunya yang kuat dan leher besar. Ia juga memiliki daya tahan (endurance) yang istimewa. Warna rambutnya bervariasi: hitam, putih, merah, dragem, hitam maid (brownish black), bopong (krem), abu-abu (dawuk), atau juga belang (plongko).

Kuda ini sampai sekarang masih merupakan kuda yang diternakkan di Pulau Sumba dan dikirim ke pulau-pulau lain seperti Jawa, Madura, dan Bali untuk dipergunakan sebagai kuda tarik, kuda tunggang serta kuda pacu. Lomba pacuan kuda Sandel masih bisa dinikmati di berbagai daerah di Indonesia terutama di Jawa, Madura, dan, tentu saja, Sumba.

Kabupaten Sumba Timur memasukkan kuda sandel pada lambang daerahnya.

Kuda Sandel Warna Dragem

Kuda Sandel Warna Putih

Kuda Sandel Warna Plongko (belang)

Maumere Of Flores

PETA KABUPATEN SIKKA

Kelahiran, perkawinan dan kematian, adalah tiga peristiwa penting dalam hidup manusia. Para leluhur telah menandai lintasan hidup yang patut dikenang itu dalam berbagai bentuk seremoni atau upacara adat yang menggugah. Upacara-upacara itu telah merupakan satu rangkaian dan untaian tradisi yang membudaya dan melekat turun temurun dalam kebiasaan hidup masyarakat Sikka. Demikian pula berbagai upacara adat yang bersifat musiman, berhubung dengan alam dan pertanian, seperti membuka kebun, memohon hujan, menanam, memetik hasil, syukuran atas panen, menolak bala, dan lain-lain, juga merupakan bagian yang sudah tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Seluruh rangkaian upacara adat tersebut, didukung dengan penyelenggaraan pesta yang dimeriahkan dengan penampilan seni tari, seni musik, seni suara dan seni sastra, juga merupakan pola upacara dan keramaian yang sudah mencapai bentuknya yang baku.
Meskipun dari sudut pandang para ekonom, bahwa adanya upacara dan pesta adat itu dianggap sebagai pemborosan dana, waktu dan tenaga, karena biayanya sangat besar dan makan waktu berhari-hari, namun dalam kebiasaan yang tak pernah menjemukan inilah, ditemukan nilai-nilai kegotong-royongan, musyawarah dan kekeluargaan yang akrab, yang tak dapat dibeli dengan uang, sekaligus mengungkapkan karakteristik budaya masyarakat setempat.
Makanya, bukan saja satu karunia bakat dan ketangkasan, tapi lebih merupakan satu kekayaan seni budaya yang mengundang perhatian, karena dampaknya sangat besar bagi dunia wisata. Kabupaten Sikka mencatat 28 jenis tari tradisional, terdiri dari tarian perang/kepahlawanan, tarian pesta/pergaulan, tarian yang berhubungan dengan alam dan karya tani, dan jenis tarian ketika mendirikan rumah,membuat perahu, menyembelih hewan kurban, dan lain sebagainya.

Tari klasik seni drama “Soka Bobu”, adalah tarian ceritera perkawinan ala Portugis yang dibanggakan di kampung Sikka. Diiringi nyanyian koor dalam bahasa Portugis, dengan tambur, suling dan giring giring, sendratari itu telah banyak menarik perhatian wisatawan.
Sementara itu “Toja Bobu” di kampung Paga yang dikenal sebagai “BoboUta”, juga tarian kepahlawanan peninggalan Portugis yang perlu dibenah dan dipentaskan lagi dalam hubungannya dengan melesatnya arus wisatawan sekarang ini.

Oleh kemajuan perkembangan zaman, kini muncul tarian kontemporer, sepertigali-gali, rokatenda, joget, tari sirili pinang, tari nyiur, dan lain-lain. ROKATENDA, tarian pergaulan muda mudi yang diangkat dari gaya tari “togo”( tandak) PaluE, pulau gunung api Rokatenda itu, diiringi musik klasik, suling atau gong gendang, kini selalu menjadi acara tetap mengisi kemeriahan pesta-pesta dan acara-acara dalam resepsi resmi. Malah seorang Dubes Denmark untuk Indonesia bersama istrinya begitu tertarik dengan gerak gaya dan suasana yang tumbuh dari situasi tari ini, sampai sendiri berhura-hura menari dan menyanyi berjam-jam, sambil meneguk tuak Wairbleler.

Tari kreasi baru dalam bentuk sendra tari yang dipetik dari ceritera rakyat setempat, seperti tari “Du’a Nalu Pare” (dramatari mitologi), tari “Kapalelu” (dramatari dongeng) dan tari “Gareng Lameng”, sempat mencengangkan turis bule dan domestik. Ketiga tarian “moderen” ini adalah gubahan yang kreatif dari HERMAN YOSEF, seorang seniman tamatan ASRI Yogyakarta.

“GARENG LAMENG”, jenis tari yang pernah dipentaskan ke Kupang dan ibukota Jakarta itu adalah gubahan yang kreatif dari kemampuan prima seniman HERMAN YOSEF setelah memperoleh inspirasi dari upacara adat penyunatan anak di kawasan budaya Tana Ai, Kecamatan Talibura.

Gunung Rokatenda

Gunung Rokatenda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Terkini (belum ditinjau)

Langsung ke: navigasi, cari

Gunung Rokatenda adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Palu’e, sebelah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gunung yang bertipe strato ini merupakan lokasi tertinggi di Pulau Palu’e dengan ketinggian 875 meter. Gunung ini secara geografis terletak di koordinat 121° 42′ bujur timur and 8° 19′ lintang selatan.

Letusan terhebat terjadi pada 4 Agustus25 September 1928, yang sebagian besar terjadi karena tsunami menyusul gempa vulkanik. Penduduk Palu’e saat itu sebanyak 266 jiwa.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 23 Maret 1985 dengan embusan abu mencapai 2 km dan lontaran material lebih kurang 300 meter di atas puncak. Lokasi letusan berada di lereng tubuh kubah lava tahun 1981, sebelah barat laut dengan ukuran lubang letusan 30 x 40 meter. Tidak ada korban jiwa dalam letusan tersebut.

Pada tanggal 16 Januari 2005, Rokatenda kembali menunjukkan aktivitasnya sehingga status siaga ditetapkan.



Pulau Komodo

Pulau Komodo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Komodo
Geografi
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat 8.55° S 119.45° EKoordinat: title=”Tunjukkan letak di peta interaktif”>8.55° S 119.45° E
Kepulauan Kepulauan Sunda Kecil
Wilayah 390 km²
Administrasi
Indonesia
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Demografi
Populasi perkiraan 2000
Masyarakat pribumi Bugis, dll

Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.

Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.

Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.

[sunting] Sejarah

Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.

Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis “New Seven Wonders of Nature” yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com

dan jangan lupa untuk mendukung Pulau Komodo Sebagai New seven Wonder disini

Artikel bertopik pulau di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
© 2008 kau sayangku